IDEN
Online dan Offline, Kunci BMT Hadapi New Normal
11 September 2020

Jakarta, KNEKS - Pandemi Covid-19 belum juga usai. New normal atau adaptasi kebiasaan baru (AKB) pun dipilih sebagai skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah telah mengumumkan implementasi new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional.

New normal memang tidak seketat karantina, tapi perubahan pola hidup tetap terjadi, karena virus masih terus mengancam. Aturan jaga jarak, kerja dari rumah, shift kerja, cuci tangan, menggunakan masker, pembatasan transportasi, dan masih banyak peraturan tidak biasa lainnya yang harus dijalankan.

Perubahan ini menuntut adanya inovasi, jika tidak, bersiaplah untuk digilas. Kepala Divisi Keuangan Mikro Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Bagus Aryo mengatakan inovasi menjadi rumus yang baku ketika penerapan new normal. Inovasi itu adalah digital atau online. Aktivitas yang terjadi kini tidak bisa selamanya dilakukan secara offline. Hal ini juga berlaku bagi Baitul Maal wat Tamwil (BMT).

Menurutnya, kunci terbaik menyikapi new normal bagi BMT adalah memadukan antara online dan offline. Offline bagi BMT dalam hal ini adalah tatap muka. “BMT siap online, lalu offline tetap dipertahankan. Salah satu kekuatan dan ciri khas BMT punya kedekatan secara emosional dengan anggotanya,” jelas Bagus.

Ikatan emosi itu seperti pegawai BMT yang menjemput bola, mendatangi pasar langsung menawarkan pinjaman dan menabung ke masyarakat. Hal ini lah yang mesti dipertahankan, di samping pengembangan online yang memang cepat atau lambat, ada Covid-19 atau tidak, pasti dibutuhkan.

Bagus menambahkan dampak yang ditimbulkan Covid-19 memang tidak terelakkan bagi BMT. Akibat pandemi ini, dari sisi likuiditas banyak pinjaman yang macet. Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tidak bisa melakukan pengembalian pembiayaan ke BMT efek dari pandemi.

Selain itu, tidak sedikit anggota BMT saat pandemi yang mengambil atau menarik simpanannya. Kebutuhan untuk membeli obat, makan, hingga kondisi pemutusan hubungan kerja yang meningkat membuat volume anggota BMT yang mengambil simpanan tinggi.

Senada dengan Bagus, Direktur Eksekutif Induk Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM) Agus Yuliawan mengatakan pandemi ini memberikan dampak bagi BMT.

“Mereka (BMT) mengajukan relaksasi, kemudian restrukturisasi sambil melakukan pemulihan-pemulihan terhadap para anggota yang masih mampu untuk bayar. Rata-rata kondisinya demikian dengan kondisi Covid-19 ini,” tutur Agus.

Selain itu, menurut Agus, kondisinya diperparah bagi BMT yang tidak memiliki semacam koperasi sekunder. Padahal itu bisa mejadi penyelamat BMT.

Bila bercermin ke BMT, Agus mengaku dampak pandemi tidak besar bagi BMT. Antisipasi ancaman seperti bila terjadi resesi sudah dilakukan. Penguatan-penguatan internal ditingkatkan, khususnya pemetaan rasio-rasio keuangan. Ditambah BMT juga memiliki koperasi sekunder, yakni Pusat atau Induk BMT.

Agus menyarankan kepada pemerintah untuk membuat kebijakan yang bisa membuat situasi ini sebisa mungkin persis seperti sebelum Covid-19 untuk memulihkan BMT. Sehingga aktivitas seperti sekolah dan perkantoran bisa berjalan normal.

“Dengan adanya sekolah bisa normal atau kantor bisa buka, otomatiskan pelaku usaha seperti cendol dawet bisa beraktivitas. Kuncinya adalah bagaimana sekolah harus normal. Ketika sekolah tidak bisa aktif, dampaknya pada transportasi, tidak ada transportasi tidak ada barang yang bergerak, tidak ada barang berkerak maka keuangan mikro juga tidak ada yang bayar” ujar Agus.

Sementara Bagus mengungkapkan, kondisi yang menimpa BMT menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah memberikan bantuan sosial (bansos) produktif pada 17 Agustus 2020.

Pemerintah akan memberikan bansos untuk usaha mikro dan kecil. Per usaha mikro dan kecil yang saat ini jumlahnya mencapai 12 juta itu akan mendapatkan Rp2,4 juta.

“Mereka (usaha mikro dan kecil) umumnya yang dicari anggota BMT. Jadi, ini membantu menguatkan pondasi mereka, menguatkan social capital. Ini sebetulnya membantu BMT sendiri, yang awalnya collapse, jadi segar lagi. Jadi siap untuk mendapatkan pembiayaan lagi. Mereka siap menerima pembiayaan dari BMT,” papar Bagus.

KNEKS juga sedang mengembangkan apa yang disebut dengan BMT 4.0. Ada empat pilar yang diterapkan BMT 4.0 ini. Pertama, digitalisasi operasional, artinya mulai dari manajemen informasi sistemnya, akuntasi, tabungan, dan lain-lainnya di internal BMT sudah dalam bentuk digital.

Kedua adalah manajemen support system, ini konteksnya kepatuhan berkaitan dengan pelaporan dan keterbukaan. Ketiga, adanya pengembangan pelayanan anggota, contohnya adanya ATM mobile banking versi BMT. Bagus mengatakan pandemi ini mengajarkan bahwa sudah saatnya online dilakukan. Pelayanan yang bisa menyentuh seluruh anggota hanya bisa dilakukan dengan online.

Keempat adalah digitalisasi bisnis, dalam hal ini bagaimana memadukan aspek manusia dan sistemnya, artinya ada supply chain, bisnis membangun ekosistem digital. Dengan ini masyarakat bisa membangun ekosistemnya, seperti transfer digital antar BMT.

Secara konsep BMT 4.0 sudah siap digunakan. Namun, KNEKS ingin dilakukan piloting terlebih dahulu sebelum diluncurkan ke publik. BMT 4.0 ini diusahakan bisa digunakan secara gratis nantinya. “Kami memperkirakan piloting sekitar Oktober atau November. Mudah-mudahan akhir tahun atau awal tahun depan hasilnya baru kita sosialisasikan,” pungkas Bagus.

Penulis: Aldi, Andika, Yodi
Redaktur Pelaksana: Iqbal

Berita Lainnya