IDEN
Riset dan Inovasi Bidang Sains Halal untuk Industri Produk Halal
13 Juli 2021

Berdasarkan Laporan State of the Global Islamic Economy Indicator 2020/2021, Indonesia adalah negara pengimpor makanan halal terbesar di dunia, diikuti oleh Turki, Pakistan, Mesir, dan Bangladesh berturut-turut. Di sisi lain masih sangat banyak perusahaan manufaktur yang menggunakan babi serta derivatnya sebagai bahan baku atau bahan tambahan pada makanan, obat-obatan, dan kosmetik di seluruh dunia.

Menurut laporan USDA (2020) terdapat lima negara eksportir babi terbesar di dunia yakni (1) Cina, (2) Uni Eropa, (3) Amerika, (4) Brazil, dan (5) Rusia. Negara-negara tersebut juga menjadi penyumbang ekspor makanan, obat obatan dan kosmetika halal ke negara-negara OKI termasuk Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harus mempunyai perhatian yang besar terhadap kehalalan produk baik makanan, obat-obatan, maupun kosmetik.

Indonesia sebagai negara agraris mempunyai keunggulan komparatif tersendiri. Rempah rempah dan komoditas unggulan Indonesia baik hewani maupun nabati dapat menjadi sumber potensial yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan industri produk halal dalam negeri. Apalagi pandemi COVID-19 berkontribusi dalam pembatasan kegiatan ekspor dan impor bahan baku industri. Dibutuhkan terobosan dalam optimalisasi bahan baku lokal yang halal untuk memenuhi kebutuhan industri produk halal dalam negeri.

KNEKS sebagai koordinator pengembangan ekonomi syariah dan industri halal Indonesia berusaha menjawab tantangan tersebut. Salah satunya adalah berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait industri halal, baik dengan berbagai Kementerian/Lembaga, swasta, maupun akademisi. Salah satu langkah strategis KNEKS dalam mengembangkan industri produk halal adalah melakukan pertemuan dan berkoordinasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk bersinergi dalam memperkuat riset dan inovasi nasional di bidang sains halal pada Kamis, 7 Juli 2021.

Adapun hasil dari diskusi adalah sebagai berikut:

  • BRIN sudah mendapatkan arahan Bapak Wakil Presiden, Prof. K.H. Ma’ruf Amin yang juga sebagai Ketua Harian KNEKS untuk BRIN mendukung pengembangan riset ekonomi syariah dan industri halal.
  • BRIN berkomitmen untuk mendukung dan bersinergi dalam pengembangan riset serta inovasi ekonomi syariah dan sains halal untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
  • Direncanakan riset di bidang sains halal akan dimasukkan dalam Prioritas Riset Nasional (PRN) mulai tahun 2022 dan dibuat section khusus.
  • Fokus riset BRIN dalam jangka pendek sejalan dengan program pengembangan riset sains halal KNEKS diantaranya: (i) riset tentang bahan baku substitusi non-halal di sektor makanan, farmasi, dan kosmetik; (ii) Pengembangan teknologi alat deteksi bahan kritis halal; dan (3) Pembuatan standardisasi halal bagi Lembaga-Lembaga Penjamin Halal (LPH) di seluruh Indonesia.
  • Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI (BPTBA-LIPI) yang berada di bawah naungan BRIN akan dijadikan sebagai pusat riset pangan nasional dan BRIN sedang membangun laboratorium berskala nasional yang nantinya bisa digunakan oleh berbagai perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah untuk kepentingan riset salah satunya terkait sains halal.

Penulis: Citra Atrina Sari
Redaktur Pelaksana: Ishmah Qurratu'ain

Berita Lainnya