IDEN
Inovasi Pemimpin Muda di Kancah Filantropi Islam/LAZNAS
05 Oktober 2021

Jakarta, KNEKS - Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyelenggarakan Sharia Inspirative Talks episode 8 yang mengundang Abdul Ghofur, Direktur Utama PPPA Darul Quran sebagai narasumber pada Senin (27/09).  Kegiatan ini mengulas tema terkait Inovasi Pemimpin Muda di Kancah Filantropi Islam/LAZNAS, mengingat peranan Lembaga Amil Zakat (LAZ) telah dirasakan manfaatnya selama pandemi Covid-19 ini.

Karir Ghofur di bidang filantrofi dimulai pada Zakat & Wakaf Development Program Dompet Dhuafa. Selama di Dompet Dhuafa, Ghofur pernah menjadi kepala kantor cabang di Hong Kong. Kemudian Ghofur melanjutkan karirnya di Mandiri Amal Insani, yakni unit filantropi di Bank Mandiri.

“Secara prinsipnya, bisnis proses ketiganya (zakat wakaf sedekah) sama, yakni menghimpun, mencatat, mengelola, sampai menyalurkan. Jadi kita mengenalnya ada tiga bisnis proses, baik di kelas LAZ korporasi, nasional maupun wilayah/daerah itu sama” ujar Ghofur dalam menjawab kegiatan dasar apa saja yang dilakukan dalam LAZ.

Terdapat perbedaan terkait bisnis proses di ketiga tipe LAZ tersebut. Sebagai contoh, di LAZ Nasional (LAZNAS) beberapa aspek seperti jumlah penghimpunan, jumlah penyaluran, bentuk laporan keuangan, dan lain sebagainya harus mengikuti arahan yang diberikan oleh Badan Amil Zakat Nasional.

“Kepercayaan itu bisa kita hadirkan dengan bentuk sebuah inovasi/program yang memang ‘berlebih’ dari apa yang diharapkan donatur. Apabila harapan donatur 10, maka kita ngasihnya 20” ujar Ghofur dalam menjawab bagaimana membangun kepercayaan pada LAZ.

Selanjutnya, Ghofur mengatakan bahwa seorang pemimpin harus siap menghadapi perubahan, memiliki kemampuan yang tangguh, dan memiliki strategi untuk terus berkembang. Hal-hal tersebut menjadi kunci utama bagi Generasi Milenial, Generasi Z, atau generasi lainnya untuk mengembangkan LAZ di Indonesia.

Era digital native ini memberikan peluang yang besar bagi LAZ. Sebagai contoh, pada aspek literasi, campaign, kanal-kanal layanan, penyaluran dana, dan lainnya sangat berpotensi besar untuk didigitalkan. Saat ini, PPPA Darul Quran sudah memiliki layanan digital, seperti barcode untuk bersedekah, crowdfunding melalui web, dan bahkan sudah bekerjasama dengan 27 platform digital untuk zakat, wakaf, & sedekah.

Perbedaan mengenai preferensi donatur dulu dan sekarang terletak pada cara pembayaran dan pemilihan jenis program sosial. Pada cara pembayaran, saat ini mustahik lebih senang untuk berdonasi melalui barcode atau layanan platform digital. Sedangkan pada pemilihan jenis program sosial, saat ini mereka lebih senang memberikan donasi untuk program bantuan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 dan anak yatim.

“Kita (PPPA Darul Quran) punya Yatim Covid-19 se-Indonesia, kita himpun mereka, kita bantuin mereka, dan alhamdulillah banyak banget yang membantu ini juga” ujar Ghofur.

Kemudian, Ghofur mengutarakan bahwa saat ini Generasi Milenial lebih gemar berdonasi dibandingkan generasi lainnya. Hal itu ditunjukkan dengan naiknya jumlah donatur dan nominal donasi. Ghofur mengatakan bahwa fitur otomatis pemotongan dana untuk berdonasi adalah salah satu faktor penyebab peningkatan tersebut.

“Pastinya kita terus memotivasi menanamkan nilai-nilai dan yang penting adalah bagaimana kita membuat ini (zakat, wakaf, sedekah) sebagai sebuah lifestyle. Ini sekedar tidak sekali dua kali saja, tapi ini kita buat untuk nagih” ujar Ghofur dalam meningkatkan minat masyarakat untuk berdonasi.

Penulis: Harris, Iqbal
Redaktur Pelaksana: Ishmah Qurratu'ain

Berita Lainnya