IDEN
Hari Santri: Mendorong Pesantren Menjadi Pusat Kegiatan Ekonomi Kerakyatan
22 October 2020

Jakarta, KNEKS - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meminta santri dan pesantren di seluruh Indonesia untuk mampu menjalankan peran penting sebagai pusat kegiatan ekonomi kerakyatan, sekaligus sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat sekitar.

Selain itu, santri dan pesantren diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi sebagai entitas dengan daya tahan tinggi yang terus mampu berkreasi di dalam cobaan pandemi Covid-19 saat ini.

“Kolaborasi yang solid antar berbagai elemen masyarakat, terutama santri dan pesantren sangat penting dalam mewujudkan akselerasi perekonomian rakyat, apalagi di tengah pandemi yang memang memberikan dampak negatif ini,” jelasnya dalam acara virtual Peringatan Hari Santri Nasional yang juga sekaligus peresmian program Akselerasi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren dan Komunitas, Kamis (22/10).

Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, disebut Menkeu tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan, tapi juga sosial, ekonomi dan keuangan. Pemerintah terus berupaya menangani aspek tersebut, salah satunya melalui alokasi berbagai anggaran untuk menolong masyarakat, dunia usaha, pesantren dan pendidikan keagamaan agar bisa bertahan dan kembali pulih.

Sementara itu, Wakil Presiden (Wapres) KH. Dr. Ma’ruf Amin, M.A menegaskan dalam Undang Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, bahwa pesantren memiliki posisi strategis, yakni sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, sekaligus lembaga pemberdayaan masyarakat.

“Dalam melaksanakan fungsi pemberdayaan masyarakat, pesantren berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pesantren dan masyarakat sekitarnya,” ujar Ketua Harian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) ini.

Saat ini terdapat 28.194 pesantren dengan 18 juta santri yang dapat menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan, ekonomi syariah, dan UMKM halal Indonesia. Hal ini menjadi potensi besar, karena pesantren tersebar luas di Nusantara dan lahir mandiri, dibangun dengan swadaya masyarakat, serta memberikan layanan terintegrasi. Karena itulah pesantren juga dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan, layanan dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Program Akselerasi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pesantren dan Komunitas ini diharapkan dapat mendorong kebangkitan UMKM halal dan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Hal ini dilakukan melalui pengembangan lembaga keuangan syariah pesantren, pengembangan kewirausahaan santri (santripreneur), dan pengembangan sektor riil dan industri halal. Adapun pengembangan keuangan syariah di pesantren dapat dilakukan melalui Bank Wakaf Mikro (BWM) dan Baitul Maal Wat-Tamwil (BMT) yang keduanya berbadan hukum koperasi.

Saat ini Kementerian Koperasi dan UKM melakukan revitalisasi pembiayaan dana bergulir yang disalurkan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) untuk mendukung pembiayaan koperasi, termasuk koperasi syariah (BMT) di pesantren. 

BMT yang sudah berkembang di masyarakat sejak beberapa tahun silam, sebetulnya memiliki potensi yang besar untuk inklusifitas. Karena BMT telah menjadi ujung tombak layanan keuangan syariah di masyarakat pada tingkat akar rumput.

Adapun pada program santripreneur, para santri dibekali  keterampilan vokasi dan kewirausahaan. Hal ini agar selain menguasai ilmu agama, para santri juga diharapkan menguasai kewirausahaan, sehingga saat terjun di masyarakatsantri mampu menggerakkan masyarakat untuk berwirausaha.

Pesantren juga diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan ketahanan pangan. Dalam hal ini, KNEKS bersama dengan Bank Indonesia mendukung program ketahanan pangan berbasis pesantren, seperti Green Waqf, Urban Farming Pesantren, dan lain-lain.

Green Waqf merupakan program wakaf produktif di sektor pertanian dan perikanan yang hasilnya dimanfaatkan oleh pesantren dan masyarakat miskin sebagai penerima manfaat (maukuf alaih). Sedangkan Urban Farming Pesantren dapat menjadi solusi pesantren yang berlokasi di perkotaan dengan lahan terbatas. Kedua program tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan meningkatkan pendapatan pesantren dan masyarakat sekitar.

Wapres mengungkapkan pemerintah menyambut baik dan mengapresiasi berbagai inisiasi pengembangan ekonomi kerakyatan dan ekonomi syariah berbasis pesantren dan komunitas. “Diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat,” sambungnya.

Menkeu menambahkan, semua upaya yang dilakukan pemerintah diharapkan dapat menjadikan pesantren dan masyarakat sekitar sebagai ekosistem mandiri, sejahtera, dan berkegiatan ekonomi kompetitif yang berorientasi ekspor. Hal ini bertujuan pada peningkatan pangsa produk halal untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kemudian mengatakan, bahwa acara Peringatan Hari Santri Nasional 2020 ini dapat menjadi momentum untuk mendorong pesantren agar tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan pusat dakwah, tapi juga pusat ekonomi. Sehingga pada akhirnya terwujud kemandirian ekonomi pesantren.

“Ini menjadi momentum pesantren dalam pengembangan peran ekonomi syariah nasional dan tentu saja dalam pemulihan ekonomi nasional,” imbuh Perry. Terlebih Perry mengungkapkan Bank Indonesia melihat pesantren memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi syariah secara inklusif.

Menteri Agama Fachrul Razi menyampaikan pendidikan agama dan keagamaan, khususnya pendidikan pesantren, tidak diragukan lagi merupakan institusi pendidikan anak bangsa yang memiliki keunggulan untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas, produktif, dan mandiri

“Mari berdayakan pendidikan pesantren sebagai salah satu pendidikan nasional yang mewarnai wajah Indonesia di masa depan. Dengan semangat Hari Santri, kita harus mendukung kegiatan dan Pendidikan pesantren,” ajak Menag.

Senada dengan itu, Pimpinan Pondok Pesantren Madinatunnajah, K.H. Agus Abdul Ghofur menegaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan yang sudah lama berkiprah di Bumi Nusantara yang senantiasa berkhidmat untuk umat dan bangsa.

Oleh karena itu, menurut K.H. Agus, sudah sewajarnya pesantren diperhatikan baik oleh pemerintah, swasta dan perorangan, karena pesantren sangat memberikan manfaat, khususnya untuk pembentukan karakter anak-anak bangsa.  “Dalam hal ini, kami banyak berterima kasih kepada pemerintah, yaitu Wapres Ma’ruf Amin, beserta seluruh kementerian yang memperhatikan dan membantu pesantren, khususnya dalam program ketahanan pangan,” pungkasnya.

Penulis: Andika & Aldi
Redaktur Pelaksana: Ishmah Qurratu'ain

Berita Lainnya